JIWA KALA TERTIMPA MUSIBAH DAN KESEHATAN
Jiwa manusia hanya berada pada
dua kondisi, yaitu Keselamatan dan
Musibah. Bila jiwa tertimpa musibah, ia akan gelisah, mengeluh, penuh benci,
berpaling, berprasangka buruk kepada Allah, tidak bersabar, tidak ridha,
dan tidak berjalan sesuai ajaran-Nya dan Nabi-Nya. Bahkan, menjadi tidak santun, syirik kepada Allah, dan bergantung pada sebab.
Bila
jiwa dalam kondisi sehat, ia akan tamak, ingkar, dan menuruti syahwat dan kenikmatan. Bila suatu syahwat meliputi
jiwa ini, ia akan mencari
syahwat lainnya. Bagi jiwa yang sehat, nikmat makanan, minuman, pakaian,
wanita, dan kendaraan hanya bernilai rendah. Setiap kenikmatan itu bernilai
rendah dan penuh kekurangan. Jiwa ini akan mencari kenikmatan termulia dan
tertinggi yang belum terbagi dan membiarkan kenikmatan rendahan yang sudah
terbagi.
Karena
itu, Jiwa ini mau mengarungi derasnya air bah dan mengarungi segala hambatan
meski harus merasakan lelah yang tak berkesudahan dan tiada akhir di dunia ini,
Bahkan hingga akhirat. Bila jiwa ini tertimpa musibah, ia hanya mengharapkan
dapat mengetahui rahasia di balik musibah itu, melupakan segala kenikmatan,
keinginan, dan kelezatan. Ia tidak meminta apa pun dari dunia.
Namun,
Setelah musibah itu pergi, ia kembali ceroboh, tamak, angkuh, dan enggan taat
kepada Tuhannya. Bahkan terjerembab ke dalam kemaksiatan, melupakan musibah dan
malapetaka yang pernah dialaminya serta pertolongan Allah SWT kepadanya dari
celaka. Seandainya jiwa ini bersikap santun ketika rahasia musibah tersingkap,
tetap taat, bersyukur, dan ridha dengan pemberian-Nya, niscaya itu lebih baik
baginya di dunia maupun di akhirat. Dengan itu, Jiwa ini akan mendapatkan
tambahan nikmat, kesehatan, dan keridhaan Allah.
Oleh
karena itu, Siapa saja menginginkan keselamatan dunia dan akhirat, Dia harus
bersabar, ridha, tidak mengeluh kepada mahkluk, mengadukan segala kebutuhan
kepada Allah, senantiasa taat, menanti kemudahan dari-Nya serta tetap tertuju
kepada-Nya. Sebab Allah adalah yang terbaik dari selain-Nya dan dari seluruh
mahkluk-Nya. Penahanan-Nya adalah Anugerah. Siksaan-Nya adalah Nikmat-Nya.
Ujian-Nya adalah Obat-Nya. Janji-Nya adalah Pemenuhan-Nya. Firman-Nya adalah
Perbuatan-Nya. Semua perbuatan-Nya pasti baik, bijak, dan mengandung maslahat.
Karena Dia yang mengetahui kemaslahatan para hamba-Nya, dan hanya Dia yang
tahu.
Intinya,
Sikap yang paling utama dan paling layak adalah ridha, berserah diri, dan hanya
menghambakan diri dengan cara menjalankan perintah, meninggalkan larangan, dan
menerima takdir-Nya. Tidak perlu bertanya mengapa, bagaimana, dan kapan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar