Translate

Senin, 27 April 2020

JIWA KALA TERTIMPA MUSIBAH DAN KESEHATAN


                                     JIWA KALA TERTIMPA MUSIBAH DAN KESEHATAN

Jiwa manusia hanya berada pada dua kondisi, yaitu Keselamatan dan Musibah. Bila jiwa tertimpa musibah, ia akan gelisah, mengeluh, penuh benci, berpaling, berprasangka buruk kepada Allah, tidak bersabar, tidak ridha, dan tidak berjalan sesuai ajaran-Nya dan Nabi-Nya. Bahkan, menjadi tidak santun, syirik kepada Allah, dan bergantung pada sebab.
Bila jiwa dalam kondisi sehat, ia akan tamak, ingkar, dan menuruti syahwat dan kenikmatan. Bila suatu syahwat meliputi jiwa ini, ia akan mencari syahwat lainnya. Bagi jiwa yang sehat, nikmat makanan, minuman, pakaian, wanita, dan kendaraan hanya bernilai rendah. Setiap kenikmatan itu bernilai rendah dan penuh kekurangan. Jiwa ini akan mencari kenikmatan termulia dan tertinggi yang belum terbagi dan membiarkan kenikmatan rendahan yang sudah terbagi.
                Karena itu, Jiwa ini mau mengarungi derasnya air bah dan mengarungi segala hambatan meski harus merasakan lelah yang tak berkesudahan dan tiada akhir di dunia ini, Bahkan hingga akhirat. Bila jiwa ini tertimpa musibah, ia hanya mengharapkan dapat mengetahui rahasia di balik musibah itu, melupakan segala kenikmatan, keinginan, dan kelezatan. Ia tidak meminta apa pun dari dunia.
                Namun, Setelah musibah itu pergi, ia kembali ceroboh, tamak, angkuh, dan enggan taat kepada Tuhannya. Bahkan terjerembab ke dalam kemaksiatan, melupakan musibah dan malapetaka yang pernah dialaminya serta pertolongan Allah SWT kepadanya dari celaka. Seandainya jiwa ini bersikap santun ketika rahasia musibah tersingkap, tetap taat, bersyukur, dan ridha dengan pemberian-Nya, niscaya itu lebih baik baginya di dunia maupun di akhirat. Dengan itu, Jiwa ini akan mendapatkan tambahan nikmat, kesehatan, dan keridhaan Allah.
                Oleh karena itu, Siapa saja menginginkan keselamatan dunia dan akhirat, Dia harus bersabar, ridha, tidak mengeluh kepada mahkluk, mengadukan segala kebutuhan kepada Allah, senantiasa taat, menanti kemudahan dari-Nya serta tetap tertuju kepada-Nya. Sebab Allah adalah yang terbaik dari selain-Nya dan dari seluruh mahkluk-Nya. Penahanan-Nya adalah Anugerah. Siksaan-Nya adalah Nikmat-Nya. Ujian-Nya adalah Obat-Nya. Janji-Nya adalah Pemenuhan-Nya. Firman-Nya adalah Perbuatan-Nya. Semua perbuatan-Nya pasti baik, bijak, dan mengandung maslahat. Karena Dia yang mengetahui kemaslahatan para hamba-Nya, dan hanya Dia yang tahu.
                Intinya, Sikap yang paling utama dan paling layak adalah ridha, berserah diri, dan hanya menghambakan diri dengan cara menjalankan perintah, meninggalkan larangan, dan menerima takdir-Nya. Tidak perlu bertanya mengapa, bagaimana, dan kapan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar